Rabu, 09 April 2014

BAB VI DISTRIBUSI NORMAL, DISTRIBUSI t DAN DISTRIBUSI f



TUGAS STATISTIKA BAB VI DISTRIBUSI NORMAL, DISTRIBUSI t DAN DISTRIBUSI f

BAB VI
DISTRIBUSI NORMAL



 Distribusi  normal  adalah distribusi  dengan  variabel  acak  kontinu atau sering
disebut distribusi Gauss. Jika variabel acak kontinu X mempunyai fungsi densitas pada
X = x dengan persamaan :
1

( ) =

√2

(      )

dengan :   π   = nilai konstan yang bila ditulis dengan 4 desimal π = 3,1416
   e   = bilangan konstan, bila ditulis hingga 4 desimal, e = 2,7183.
µ   = parameter, ternyata merupakan rata-rata untuk distribusi.
σ   = parameter, merupakan simpangan baku untuk distribusi.
Nilai  x  mempunyai  batas  -  ∞  <  x  <  ∞,  maka  dikatakan  bahwa variabel  acak X
berdistribusi normal. Sifat-sifat penting distribusi normal :
1) Grafiknya selalu ada di atas sumbu datar X.
2) Bentuknya simetris terhadap x = µ.
3) Mempunyai satu modus, jadi kurva normal, tercapai pada x = µ sebesar ,.

4) Grafiknya  mendekati  (berasimtotkan)  sumbu datar  x  dimulai  dari  x  = µ  +  3σ  ke
kanan dan x = µ - 3σ ke kiri.
5) Luas daerah grafik selalu sama dengan satu unit persegi.
Untuk setiap pasang µ  dan    σ,  sifat-sifat  di  atas  akan  selalu dipenuhi,  hanya
bentuk kurvanya  saja  yang berlainan.  Jika  σ  makin  besar,  kurvanya  makin rendah
(platikurtik) dan untuk σ makin kecil, kurvanya makin tinggi (leptokurtik).


                             (A)


                                             (B)




(A) kurva normal dengan µ = 10 dan σ = 5, sedangkan  (B) kurva normal dengan µ = 20
dan σ = 7.






Untuk menentukan peluang harga X antara a dan b, yakni P(a<X<b), digunakan
rumus:



( <         < ) =         (      2 )



/ (       )



Distribusi normal standar ialah distribusi dengan rata-rata µ = 0 dan simpangan baku σ
= 1. Fungsi densitasnya berbentuk :
1

( ) = −

Untuk z dalam daerah - ∞ < z < ∞.

√2

/

Untuk menentukan distribusi normal baku dapat menggunakan transformasi :
=   −

Grafiknya dapat dilihat seperti berikut ini :

Normal Umum

        Normal Standar









µ-3σ   µ-2σ   µ-σ  µ  µ+σ  µ+2σ  µ+3σ             -3     -2     -1     0     1    2     3

rata-rata = µ ≠ 0
Simpangan baku = σ ≠ 1

rata-rata = 0  
σ = 1

Setelah didapatkan formasi distribusi normal baku dari distribusi normal umum


dari  rumus     =   −


  maka  daftar  distribusi  normal  dapat  digunakan.  Dengan  daftar


ini bagian-bagian luas dari distribusi normal baku dapat dicari dengan cara :
1) Hitung z sehingga dua desimal.
2) Gambarkan kurvanya seperti gambar sebelah kanan pada gambar di atas.
3) Letakkan harga z pada sumbu datar, lalu tarik garis vertikal hingga memotong kurva.
4) Luas yang tertera dalam daftar adalah luas daerah antara garis ini dengan garis tegak
di titik nol.
5) Dalam daftar, cari tempat harga z pada kolom paling kiri hanya hingga satu desimal
keduanya dicari pada baris paling atas.






6) Dari  z  di  kolom  kiri  maju ke  kanan  dan  dari  z  di  baris  atas  turun  ke bawah,  maka
didapat  bilangan  yang merupakan  luas  yang dicari.  Bilangan  yang didapat  harus
ditulis dalam bentuk 0,xxxx (bentuk 4 desimal).
Karena seluruh luas = 1 dan kurva simetrik terhadap µ = 0, maka luas dari garis
tegak pada titik nol ke kiri ataupun ke kanan adalah 0,5.
Beberapa contoh, penggunaan daftar normal baku.
Akan dicari luas daerah :
1)    Antara z = 0 dan z = 2,15.
Di bawah z pada kolom kiri  cari 2,1 dan di atas sekali angka 5. Dari 2,1 maju ke
kanan dan dari 5 menurun, didapat 4842.
Luas daerah yang dicari, dapat dilihat daerah yang diarsir, = 0,4842.











                             0       2,15
2)    Antara z = 0 dan z = -1,86.
Karena z bertanda negatif, maka pada grafiknya diletakkan di sebelah kiri 0. Untuk
daftar digunakan z = 1,86. Di bawah z kolom kiri dapatkan 1,8 dan di atas angka 6.
Dari 1,8 ke kanan dan dari 6 ke bawah didapat 4686. 
Luas daerah = daerah diarsir = 0,4686.










    -1,86      0
3)    Antara z = -1,50 dan z = 1,82.
Dari  grafik  terlihat  bahwa  kita  perlu  mencari  luas  dua  kali,  lalu dijumlahkan.
Mengikuti  cara  1)  untuk    z  =  1,82  dan  cara  di  2)  untuk z  =  -1,50, masing-masing
didapat 0,4656 dan 0,4332. Jumlah = luas yang dicari = 0,4332 + 0,4656 = 0,8988.
















      -1,5     0      1,82  
4)    Antara z = 1,40 dan z = 2,65.
Yang  dicari adalah luas dari z = 0 sampai ke z = 1,40. Dengan cara yang dijelaskan
di  atas  masing-masing didapat  0,4960 dan  0,4192.  Luas  yang  dicari =  0,4960 –
0,4192 = 0,0768.











      0   1,40  2,65

5)    Dari z = 1,96 ke kiri.
Luasnya sama dengan dari z = 0 ke kiri (= 0,5) ditambah luas dari z = 0 sampai ke z
= 1,96. Untuk z = 1,96 dari daftar didapat 0,4750. Luas = 0,5 + 0,4750 = 0,9750.










       0    1,96

6)    Dari z = 1,96 ke kanan.
Dari  gambar  6)  dapat  dilihat  bahwa  yang dicari  merupakan  daerah yang tidak
diarsir. Ini sama dengan luas dari z = 0 ke kanan (= 0,5) dikurangi luas dari z = 0
sampai ke z = 1,96 yang besarnya 0,4750. Luas = 0,5 – 0,4750 = 0,0250.
Untuk mencari  kembali  z  apabila  luasnya  diketahui,  maka dilakukan  langkah
sebaliknya.  Misalnya,  jika  luas  =  0,4931,  maka  dalam  badan  daftar dicari  4931 lalu






menuju ke pinggir sampai pada kolom z, didapat 2,4 dan menuju ke atas sampai batas z
didapat 6. Harga z = 2,46.
Beberapa  bagian  luas  untuk distribusi  normal  umum  dengan  rata-rata  µ  dan
simpangan  baku  σ  tertentu dengan mudah  dapat  ditentukan.  Tepatnya, jika  sebuah
fenomena berdistribusi normal, maka dari fenomena itu :
1)   Kira-kira 68,27% dari kasus ada dalam daerah satu simpangan baku sekitar rata-
rata, yaitu antara µ - σ dan µ + σ.
2)   Ada 95,45% dari kasus terletak dalam daerah dua simpangan baku sekitar rata-
rata, yaitu antara µ - 2σ dan µ + 2σ.
3)   Hampir 99,73% dari kasus ada dalam daerah tiga simpangan  baku sekitar rata-
rata, yaitu antara µ - 3σ dan µ + 3σ.
Contoh :
Berat  barang siswa  dalam  suatu tour  rata-rata  3,750 gram  dengan simpangan
baku 325 gram. Jika berat barang berdistribusi normal, maka tentukan ada :
a)  Berapa persen siswa yang mempunyai berta barang lebih dari 4.500 gram ?
b)  Berapa  orang siswa  yang yang memiliki  berat  barang antara  3.500 gram dan  4.500
gram, jika semuanya ada 10.000 siswa ?
c)  Berapa siswa  yang orang siswa  yang berat barangnya  lebih kecil  atau sama dengan
4.000 gram jika semuanya ada 10.000 siswa?
d)  Berapa  orang siswa  yang berat  barangnya  4.250 gram  jika  semuanya ada  5.000
siswa?
Penyelesaian :
Dengan X  =  berat  barang  siswa  dalam  gram,  µ  =  3,750 gram,  σ =  325 gram,
maka :


a)  Dengan transformasi rumu  =   −

=   −


s   untuk X = 4.500 :

4.500 −  3.750
  = 2,31

325
Berat yang lebih dari 4.500 gram, pada grafiknya ada disebelah kanan z = 2,31. Luas
daerah ini = 0,5 – 0,4896 = 0,0104. Jadi ada 1, 04% dari dari berat barang siswa yang
lebih dari 4.500 gram.















          0         2,31
b) Dengan X = 3.500 dan X = 4.500 didapat :
3.500 −  3.750
=                             =   −0,77           = 2,31
325
Luas daerah  yang perlu = daerah  yang diarsir = 0,2794 + 0,4896 = 0,7690. Banyak
siswa  yang berat  barangnya  antara  3.500 gram  dan  4.500 gram diperkirakan  ada
(0,7690)(10.000) = 7.690.











                  -0,77  0      2,31
c)  Karena beratnya lebih kecil atau sama dengan 4.000 gram, maka beratnya harus lebih
kecil dari 4.000,5 gram.
4.000,5 −  3.750
=                                =   −0,77
325
Peluang berat barang siswa lebih kecil atau sama dengan 4.000 gram = 0,5 + 0, 2794
= 0,7794.
Banyak siswa = (0,7794)(10.000) = 7794.
d) Jika berat 4.250 gram berarti berat antara 4.249,5 gram dan 4.250,5 gram. Jadi untuk
X = 4.249,5 dan X = 4.250,5 didapat :
4.249,5 − 3.750
=                               = 1,53.
325
4.250,5 − 3.750
=                               = 1,54
325
Luas daerah yang perlu = 0,4382 – 0,4370 = 0,0012.
Banyak siswa = (0,0012)(5.000) = 6.






Antara  distribusi  binom  dan  distribusi  normal  terdapat  hubungan tertentu.  Jika
untuk fenomena yang berdistribusi binom berlaku :
a)  N cukup besar,
b) π  =  P(A)  =  peluang peristiwa  A  terjadi,  tidak  terlalu dekat  kepada nol,  maka
distribusi  binom  dapat  didekati  oleh  distribusi  normal  dengan  rata-rata µ  =  Nπ  dan


simpangan baku σ =


 (1 −   ).

Untuk pembakuan,  agar  daftar  distribusi  normal  baku dapat dipakai,  maka
digunakan transformasi :
=
(1 −   )
Dengan  X  =  variabel  acak  dalam  distribusi  diskrit  yang menyatakan  terjadinya
peristiwa  A.  Karena  disini  telah  mengubah  variabel  acak diskrit  dari distribusi  binom
menjadi  variabel  acak kontinu dalam  distribusi  normal,  maka  nilai-nilai  X perlu
mendapat  penyesuaian.  Yang dipakai  ialah dengan  jalan menambah  atau mengurangi
dengan 0,5.
Perhatikan distribusi binom oleh distribusi normal sangat berfaedah, antara lain
untuk mempermudah perhitungan.
Contoh :
10% dari siswa tergolong kategori A. Sebuah sampel acak terdiri atas 400 siswa
telah diambil. Tentukan peluangnya akan terdapat :
a)  paling banyak 30 orang tergolong kategori A.
b) Antara 30 dan 50 orang tergolong kategori A.
c)  55 orang atau lebih termasuk kategori A.
Penyelesaian :
Soal  ini  merupakan  soal  distribusi  binom.  Tetapi  lebih cepat  dan mudah  bila
diselesaikan dengan distribusi normal. Kita ambil X = banyak siswa termasuk kategori
A. Maka dari segi X ini didapat:
µ = 0,1 x 400 orang = 40 0rang.
Σ = √400   0,1   0,9 orang = 6 orang.
a)  Paling banyak 30 orang dari  kategori  A,  berarti  X  =  0,  1,  2,  ...,  30. Melakukan
penyesuaian terhadap X, maka sekarang X menjadi - 0,5 < X < 30,5, sehingga :











−0,5 − 40
6
30,5 − 40






= −6,57.


6

= −1,58

Luas  daerah yang diarsir  adalah  0,5 –  0,  4429 =  0,0571. Peluangnya  terdapat
paling banyak 30 orang termasuk kategori A adalah 0,0571.











-1,58   0
b)  Untuk distribusi  normal,  disini  berlaku 30,5 <  X  <  49,5.  Bilangan standar  z-nya
masing-masing :



30,5 − 40
6


= −1,58                         = 

49,5 − 40
6


= +1,58.

Dari  daftar  distribusi  normal  baku terdapat  peluang yang ditanyakan  = 2(0,4429)  =
0,8858.
c)  55 orang atau lebih untuk distribusi  binom  memberikan  X  >  54,5 untuk distribusi
normal.
Maka
54,5 − 40
=                     = 2,42

6
Sehingga  kita  perlu luas  daerah  dari  Z  =  2,42 ke  kanan.  Dari daftar  distribusi
normal baku didapat peluang yang dicari = 0,5 – 0,4922 = 0,0078.










 0        2,42
Apabila  kondisi  populasi  digambarkan  dalam  bentuk kurva,  bisa dijumpai
berbagai  macam  bentuk kurva.  Hal  ini  tergantung dari  kondisi  penyebaran frekuensi







skor  yang terkumpul.  Pada  umumnya  kondisi  populasi  dalam  dunia pendidikan
berdistribusi  normal.  Tetapi  tidak selamanyapopulasi  yang dijumpai  akan berdistribusi
normal,  oleh  karena  itu,  kita  harus  hati-hati  dalam  menghadapi  data tersebut.  Analisis
statisik untuk data  yang berdistribusi  normal  akan  berbeda,  dengan demikian  maka
interpretasinyapun akan dipengaruhi oleh bentuk distribusinya.
Data  populasi  akan  berdistribusi  normal  jika  rata-rata  nilainya sama  dengan
modenya  serta  sama  dengan  mediannya.  Ini  berarti  bahwa  sebagian  nilai (skor)
mengumpul pada posisi tengah, sedangkan frekuensi skor yang rendah dan yang tinggi
menunjukkan kondisi yang semakin sedikit seimbang. Oleh karena penurunan frekuensi
pada skor  yang semakin rendah dan  skor  yang semakin tinggi  adalah seimbang,  maka
penurunan garis kurva ke kanan dan ke kiri akan seimbang.
Kurva  normal  mempunyai  hubungan  erat    dengan  data  yang kontinue  (interval
mauoun  ratio).  Distribusi  yang  normal  kurvanya  merupakan  distribusi  yang paling
banyak dijumpai  dan  digunakan  sebagai  pengembangan  rumus-rumus statistik
parametrik (inferensial  statistik).  Disamping itu,  sifat  normal  ini  yang paling banyak
ditunjukkan oleh sifat populasi.
Distribusi normal mempunyai sifat-sifat yang khusus, yaitu :
1.  Bentuknya simetri dengan sumbu X.
2.  Nilai rata-rata = mode = media.
3.  Mode hanya satu (unimodal). 
4.  Ujung-ujung grafiknya  hanya  mendekati  sumbu  X atau dengan kata  lain tidak akan
bersinggungan maupun berpotongan dengan sumbu X (berasimtot dengan sumbu X).
5.  Kurva  akan  landai  jika  rentangan  skor  besar,  sebaliknya  jika rentangan  skor  kecil
maka kurvanya akan meninggi.
6.  Luas daerah kurva akan sama dengan luas satu persegi empat.
Bentuk kurva  normal  tergantung pada  distribusi  nilai/skor  yang akan  dibuat
kurvanya.  Penyebaran  skor  dan  panjang pendeknya  rentangan  distribusi berpengaruh
besar  atau menentuka  bentuk kurvanya.  Jika  jumlah  responden  sama, maka  kurva
normal dari distribusi skor tersebut akan berbeda bentuknya.
Jenis  bentuk kurva  yang  diakibatkan  oleh perbedaan rentangan  nilai dan
simpangan baku ada tiga macam, yaitu :






1.  Leptokurtik,  merupakan  bentuk kurva  normal  yang  meruncing  tinggi karena
perbedaan frekuensi pada skor-skor yang mendekati rata-rata sangat kecil.
2.  Platykurtic,  merupakan  kurva  normal  yang mendatar  rendah  karena perbedaan
frekuensi pada skor-skor yang mendekati rata-rata sangat kecil.
3.  Normal,  merupakan  bentuk kurva  normal  yang biasa, artinya  bentuknya merupakan
bentuk antara  leptokurtic  dan platykurtic,  karena  penyebaran  skor biasa  dan  tidak
terjadi kejutan-kejutan yang berarti.
Bentuk ketiga kurva normal itu dapat dilihat pada grafik, berikut ini :


(1)


(2)
(3)








Kurva  normal dapat pula dibuat berdasarkan  skor  yang telah ditransformasikan
ke  Z  skor.  Proses  transformasi  distribusi  skor  yang  normal  akan  tetap menghasilkan
distribusi  Z  skor  yang normal  pula.  Untuk kepercayaan  kita,  dapat dibuktikan  melalui
contoh soal di bawah.
Contoh : 1
Suatu penyebaran  nilai  matematika  siswa  pada  suatu sekolah menengah  pertama
sebagai berikut :

65        65
75        75

60        70        70      70
80        80        80      85

75        75
85        90

Berdasarkan data tersebut di atas buatlah :
1.  Perhitungan rata-rata dan simpangan bakunya.
2.  Transformasi Z skor.
3.  Kurva berdasarkan distribusi skor asli.
4.  Kurva berdasarkan distribusi Z skor.
Rumus  rata-rata  yang digunakan  adalah  rumus  rata-rata  hitung yaitu (∑X)  :  n,


sedangkan  simpangan  bakunya  dihitung dengan  rumus

= ∑(      )    dan  rumus






=   √           untuk sejumlah    sampel,  tetapi  jika  yang akan  dihitung simpangan
bakunya merupakan populasi maka pembagi pada perhitungan variance sebesar N.
Jumlah skor adalah 1200
Jumlah responden adalah 16
Jadi, rata-ratanya adalah 1200 : 16 = 75
Jika data di atas merupakan populasi maka σ = 7,91
Jika data di atas merupakan sampel maka Sd = 8,16. Apabila kita menganggap
bahwa skor tersebut adalah skor yang berasal dari populasi, maka Z skornya adalah :

Untuk X = 60  
Untuk X = 65  
Untuk X = 70  
Untuk X = 75  
Untuk X = 80  
Untuk X = 85  
Untuk X = 90  

Z skor = (60 - 75) : 7,91 = -1,90
Z skor = (65 - 75) : 7,91 = -1,26
Z skor = (70 - 75) : 7,91 = -0,63
Z skor = (75 - 75) : 7,91 =  0
Z skor = (80 - 75) : 7,91 =  0,63
Z skor = (85 - 75) : 7,91 =  1,26
Z skor = (90 - 75) : 7,91 =  1,90



Berdasarkan distribusi skor asli kurvanya adalah :


  4
3
       2
        1
        0

           60         65       70        75        80        85       90        95
µ
Berdasarkan distribusi Z skor kurvanya adalah :


  4
3
       2
        1
        0
             -           -          -          0        0,63    1,26    1,90        95
          1,90     1,26    0,63
µ






Jelas  kini  bahwa  distribusi  skor  yang normal  akan  tetap normal walaupun
dilakukan transformasi ke Z skor. Mengingat kurva normal tersebut simetri, maka garis
tegak lurus  pada  sumbu X  di  titik µ  akan  membagi  dua  bagian  kurva menjadi  sama
besar.  Luas  seluruh  daerah  di  bawah  kurva  normal  adalah  100%  atau sama  dengan  1
(satu),  sehingga  belahan kanan  kurva  normal  dan  belahan  sebelah  kiri kurva  normal
masing-masing mempunyai luas 0,5 atau 50%. Untuk lebih jelasnya tentang luas daerah
di bawah kurva normal dapat dilihat pada figur di bawah.
Melalui  transformasi  ke  Z  skor  kita  akan dapat  mencari  luar daerah  di  bawah
kurva normal, untuk nilai-nilai Z tertentu. Dalam kasus ini kita hanya berpedoman pada
tabel  distribusi  normal.  Tabel  ini  disamping  dapat  digunakan  untuk menentukan  luas
daerah  di  bawah  kurva  normal  untuk batas  titik tertentu,  juga  dapat digunakan  untuk
mencari  titik tertentu.  Tentunya  apabila  titik Z  yang tidak  diketahui, sedangkan luas
daerah di bawah kurva normal diketahuinya. Cara menggunakan tabel ini sangat mudah
karena  dalam  tabel  hanya  terdiri  dari  tiga  kolom  dan  kita  tinggal  melihat pasangan
angka antar kelompok dalam satu baris yang slah satu angkanya kita ketahui.








-2         -1       0           1         2
µ
     68, 26%
     95,46%

Selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut  :
1.  Yang memuat berbagai kemungkinan nilai Z.
2.  Yang menunjukkan luas daerah di bawah kurva antara titik µ atau 0 dengan nilai Z.
3.  Yang menunjukkan luas daerah di bawah kurva diluar nilai Z atau luas daerah di
bawah kurva di atass nilai Z.
Pada  luas  kolom  B  dan  C  selalu berjumlah  0,5 karena  jumlah  B dan  C
merupakan setengah dari luas daerah di bawah kurva normal. Penggunaan kolom B dan
C  secara  serentak (bersama)  tidak pernah  terjadi  kecuali  untuk mengontrol kebenaran
angka-angka tersebut. Gunakan salah satu kolom B dan C sesuai dengan kebutuhannya. 







Contoh : 2
a.  Jika  diketahui  Z  skor  1,26 hitunglah  luas  daerah di  bawah  kurva normal  antara  µ
dengan titik Z.
b.  Jika diketahui Z skor min 1,90 hitunglah luas daerah di bawah kurva normal antara µ
dengan titik Z.
c.  Jika luas daerah di luar titik Z adalah 0,4207 carilah titik Z nya.
d.  Jika luas daerah diantara titik Z dengan µ adalah 0,1179 carilah titik Z nya.
Dengan berpedoman  pada  tabel  distribusi  normal  kita  dapat menjawab  semua
soal di atas.
1.  Lihat  pada  (tabel  distribusi  normal)  pada  kolom  a  yang  mengandung Z  1,26,
kemudian cari jodohnya pada kolom B diperoleh angka 0,3962.
2.  Lihat  pada  kolom  A  yang mengandung Z  1,90 (tanda  minus  tidak mempengaruhi
penentuan  angka  dalam  tabel),  kemudian  cari  jodohnya  pada  kolom B  diperoleh
angka 0,4713.
3.  Lihat  pada  kolom  C  yang mengandung angka  0,4207,  kemudian  cari jodohnya  di
kolom A diperoleh 0,20.
4.  Lihat  pada  kolom  B  yang mengandung angka  0,1179,  kemudian  cari jodohnya  di
kolom A diperoleh 0,30.



DISTRIBUSI T DAN DISTRIBUSI F


1.  DISTRIBUSI STUDENT ATAU DISTRIBUSI T
Distribusi  dengan  variabel  acak kontinu lainnya,  selain dari  distribusi normal,
ialah distribusi Student atau distribusi t. Fungsi densitasnya adalah:


( ) =


……………….


(1)



 ∞ dan K merupakan bilangan tetap< t <berlaku untuk harga-harga t yang memenuhi -∞
yang besarnya  bergantung pada  n  sedemikian  sehingga  luas  daerah  di bawah  kurva
sama  dengan  satu unit.  Pada  distribusi  t  ini  terdapat  bilangan  (n  –  1) yang dinamakan
derajat kebebasan, akan disingkat dengan dk.
Jika sebuah populasi mempunyai model dengan persamaan seperti dalam rumus
(1), maka dikatakan populasi itu berdistribusi t dengan dk (n – 1).
Bentuk grafiknya  seperti  distribusi  normal  baku,  simetrik terhadap t =  0,
sehingga  sepintas  lalu hamper  tak ada  bedanya.  Untuk harga-harga  n  yang besar,
biasanya n ≥ 30, distribusi t mendekati distribusi distribusi normal baku, yaitu:
( ) = −1
√2
Untuk perhitungan-perhitungan,  daftar  distribusi  t  sudah  disusun berbentuk
tabel. Daftar tersebut berisikan nilai-nilai t untuk dk dan peluang tertentu. Kolom paling
kiri, kolom dk, berisikan derajat kebebasan, baris teratas berisikan nilai peluang. 
Untuk penggunaan daftar distribusi t, perhatikan
gambar  di  samping.  Gambar  ini merupakan  grafik

 (baca: nu) dimana p = (n – 1).ndistribusi t dengan dk =
Luas  bagian diarsir = p dan dibatasi paling kanan oleh
tp.  Harga  tp  inilah  yang dicari  dari  daftar untuk
 dan p yang diberikan.npasangan
0                    tp





 Contoh penggunaan daftar distribusi t.
1.  Untuk n = 13, jadi dk = 12 dan p = 0,95, maka t = 1,78. 






Ini didapat dengan meliat tabel distrubusi t dengan jalan maju ke kanan dari 12 dan
menurun dari 0,95.
2.  Untuk n = 16, tentukan t supaya luas yang diarsir = 0,95. 
















               -t           0           t
Dari grafik dapat dilihat bahwa luas ujung kiri = 1 – 0,95 = 0,05. Kedua ujung
ini sama luas, jadi luas ujung kanan, mulai dari t ke kanan = 0,025. Mulai dari t ke
kiri luasnya = 1 – 0,025 = 0,975. Harga p inilah yang dipakai untuk daftar.
Dengan   = 15 (lihat daftar distribusi t) kitan  maju ke kanan dan dari p = 0,975
kita menurun, didapat t = 2,13. Jadi, antara t = 2,13 luas yang diarsir = 0,95.
  3. Tentukan  t  sehingga  luas  dari  t  ke  kiri  =  0,05 dengan  dk =  9.  Untuk ini  p yang
digunakan = 0,95. Dengan dk = 9 didapat t = 1,83. Karena yang diminta kurang dari
0,5 maka t harus bertanda negatif. Jadi, t = -1,83.


2. DISTRIBUSI F
Distribusi F ini juga mempunyai variabel acak yang kontinu. Fungsi densitasnya
mempunyai persamaan:

(      )

( ) =        ∙

(

)

                  ……………….. 

(2)



Dengan  variabel  acak F  memenuhi  batas  F  >  0,  K  =  bilangan  tetap yang harganya

nbergantung pada 1 ndan 2, sedemikian sehingga luas di bawah kurva sama dengan satu,
n1 n= dk pembilang dan 2 = dk penyebut.
Jadi, distribusi F ini mempunyai dua buah derajat kebebasan. Grafik distribusi F
tidak simetrik  dan  umumnya  sedikit  positif.  Seperti  juga  distribusi lainnya,  untuk
keperluan  perhitungan  dengan  distribusi  F,  daftar  distribusi  F  telah disediakan  seperti






daftar  distribusi  t.  Daftar  tersebut  berisikan  nilai-nilai  F  untuk peluang 0,01 dan  0,05

dengan derajat kebebasan  n1 ndan 2. Peluang ini sama dengan luas daerah ujung kanan
yang diarsir,  sedangkan  dk =  n1  ada  pada  baris  paling atas  dan dk =  n2 pada  kolom
paling kiri.
Untuk setiap pasang dk,  n1 dan  n2,  daftar  berisikan
harga-harga F dengan kedua luas daerah ini 0,01 atau
0,05.





         F
 nUntuk tiap dk = 2, daftar terdiri atas dua baris, yang atas untuk peluang p = 0,05
dan yang bawah untuk p = 0,01. 
Contoh:
Untuk pasangan  derajat  kebebasan  n1  =  24 dan  n2  =  8,  ditulis  juga n(1, n2)  =  (24,  8),
maka  untu p =  0,05 didapat  F  =  3,12 sedangkan  untuk p =  0,01  didapat F  =  5,28
(terdapat  pada  daftar  distribusi  F.  Ini  didapat  dengan  jalan  mencari  24 pada  baris  atas
dan 8 pada kolom kiri. Jika dari 24 turun dan dari 8 ke kanan, maka didapat bilangan-
bilangan tersebut. Yang atas untuk p = 0,05 dan yang bawah untuk p = 0,01.
Notasi lengkap untuk nilai-nilai F dari daftar distribusi F dengan peluang p dan
ndk (1n, 2) dan F0,01(24,8) = 5,28.

Meski daftar yang diberikan hanya untuk peluang p = 0,01 dan p = 0,05, tetapi
sebenarnya  masih bias  didapat  nilai-nilai  F  dengan  peluang 0,99 dan  0,95. Untuk itu,
digunakan hubunga:
1
(      )(   ,   )=
(   ,   )
Dalam  rumus  di  atas,  perhatikan  antara  p dan  (p –  1)  dan  pertukaran antara  derajat
kebebasan (v1n, 2n) menjadi (2n, 1). 
Contoh:  Telah didapat F0,05(24,8) = 3,12


Maka, ,( ,         )=,        = 0,321

Tidak ada komentar:

Posting Komentar